SpongeBob SquarePants Desy's Squarepants: KRONOLOGIS PENDIDIKAN SAYA /* expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Monday, 25 August 2014

KRONOLOGIS PENDIDIKAN SAYA


Tugas Sejarah Indonesia
KRONOLOGIS PENDIDIKAN
Saya terlahir di Semarang, 20 Desember 1998 sebagai anak pertama dari bapak yang bernama Taufikurohman dan Ibu Zumriyah.
Namun, dalam akte kelahiran saya tertulis saya terlahir di Bandung. Loh kok bisa? Kenapa gak sekalian di Singapura atau Paris atau????
Bukan karena mengada-ada tempat kelahiran, namun orangtua saya membuat akte kelahiran ketika kami sekelurga pindah ke Bandung. Dengan alasan agar tidak rumit dan saat itu juga membuat akte double. Yang satu untuk saya sendiri dan yang satunya lagi untuk adik saya yang benar-benar lahir di Bandung.  Itu cerita dari bapak saya ketika saya minta dijelaskan mengapa tempat kelahirannya tidak sesuai dengan kenyataan.
Saya tumbuh dari bayi menuju balita di Bandung.
Lima tahun lebih beberapa bulan, setelah kelahiran saya, tepatnya tahun 2004 saya dimasukkan oleh orang tua saya ke Taman Kanak-Kanak. Nama TK-nya adalah TK Al-Hikmah yang tidak jauh dari rumah saya. Saya hanya l membuka pintu belakang rumah saya, lalu jalan lurus kurang dari 50 meter sudah sampai.
Tidak seperti TK pada umumnya yang penuh dengan mainan,TK dimana saya belajar tidak terdapat mainan seperti TK-TK yang lain. Pembelajaran awal saya adalah mengaji dan belajar pelajaran seperti matematika, bahasa indonesia, menggambar dan bahasa inggris. Walau ada TK lain yang dekat dengan rumah dan TK itu banyak mainan anaknya, tapi saya dimasukkan di TK yang gak ada mainannya. Mungkin karena agar ilmu agama saya baik, karena TK pilihan orangtua saya kental sekali dengan hubungan dan ajaran agama.
Kegiatan pembelajaran saat TK pun banyak yang berhubungan dengan agama. Misal, sebelum pembelajaran kami diwajibkan mengaji. Mengajinya dengan membaca “Iqro’ “ yang pasti dimulai dari iqro awal yaitu iqro satu. Kegiatan lainnya setiap hari Jum’at kita latihan solat. Latian sholatnya di Masjid Al-Hikmah. Jadi TK tempat saya menuntut ilmu masih dalam naungan masjid Al-Hikmah.
Manasik Haji juga salah satunya, saya ingat kejadian dimana saat akan mengadakan manasik haji.
Seragam untuk manasik haji kebanyakan beli di sekolah. Tapi, karena orang tua saya juga penjahit jadi lebih memilih membuat sendiri agar lebih menghemat. Sama-sama warna putih si, tapi punya saya lebih bagus. Karena modelnya ibu saya sendiri yang merancang. Beda dengan yang lain. Saat manasik, saya ingat kejadian yang melempar jumroh dengan kacang pilus yang di taruh di tas saku kecil, lalu ingat dengan banyaknya kamera yang mengambil gamar dan hasil gambarnya dijual di pinggir jalan menuju jalan keluar lokasi peragaan. Saya liat banyak sekali foto saya, karena tidak hanya ada satu orang yang menjadi juru foto. 

Tapi belajar saya tidak hanya di sekolah, saya juga masih mencari ilmu di sore hari dengan pergi ke Masjid Al-Hikmah untuk mengaji. Jadi saya mendapat ilmu agamanya plus-plus.
 Buku saat saya TK pun tidak penuh gambar-gambar lucu dan menarik yang disukai anak kecil. Hanya ada tempat untuk mewarnai dalam pelajaran sempoa matematika. Bahasa inggris pun bukunya hanya gambar-gambar sederhana yang tidak berwarna dan jika anak-anak melihat sepertinya idak akan tertarik untuk melihat lagi.
Karena ada masalah dalam keluarga saya, akhirrnya saya dibawa oleh orang tua saya ke Banjarnegara yang sejatinya adalah tempat tinggal kakek dan nenek saya. Dan alhasil, pendidikan TK saya pun terhenti dan sampai saat ini saaybelum pernah wisuda TK dan menyandang gelar lulusan TK. Karena saya TKnya tidak lulus. Sangat memalukan, anak SMA yang saat TK tidak lulus.
Memasuki tahun ajaran sekolah baru (2005), saya pun didaftarkan sekolah oleh Pakde saya yang tinggal di Banjarnegara. Dan kebetulah, Pakde saya adalah kepala sekolah di MI Ma’arif Celibikan. Sekolahan yang terletak di pelosok desa.
Asing? Itu yang ada dipikiran saya saat pertama kali mengenal teman dengan suku budaya dan bahasa berbeda. Masih sulit untuk saya mencerna bahasa anak desa yang mainstream berbahasa jawa dan jarang yang fasih berbahasa indonesia.
Saat jajan pun saya merasa kebingungan. Jika di Bandung, ada Tremos besar yang isinya es, di Desa Clibikan kecamatan Wanayasa isinya bubur. Mungkin karena perbedaan iklim. Di Bandung panas, di desa dingin. Malunya itu ketika saya mengasihkan uang kepada penjualnya dan bilang “Bu beli esnya” sambil membuka tutupnya. Dan saya seketika menggaruk rambut karena heran dengan isinya. Akhirnya dijelaskan oleh penjual dengan menggunakan bahasa krama yang membuat saya makin bingung
Saat menunggu Pakde selesai dengan urusan sekolahnya, saya pun di suruh pakde untuk ikut ke rumah teman sekolah saya. Mereka berkata “Desy, mayo salin nang umahe aku” otak saya sedikit mengetahui apa yang mereka maksud. Saya menangkapnya dengan pikiran “saya diajak kerumah untuk bersalaman” dan aku pun mengikuti mereka kerrumanya. Saya kira saya disuruh bersalaman dengan orang tua mereka, ternyata saya disuruh ganti baju dengan baju yang mereka punya di rumah. Namun, gak ada baju yang muat untuk saya. Karena saya dulu tinggi dibanding mereka.
Saya sekolah di MI Ma’arif Celibikan sabagai pelajar kelas 1 hanya satu minggu saja. Karena letak sekolah yang jauh, dan saya memungkinkan pulang seorang diri. Selama saya sekolah disana, berangkat dan pulang selalu bersama pakde, namun aktifitas pakde saya yang menjabat sebagai kepala sekolah menuntut kerja yang lebih dibanding pelajar, sehingga tidak jarang saya pulang sore dan tidak dapat belajar. Oleh sebab itu, saya keluar dari sekolah itu dan saya dipindahkan ke SD Negeri 1 Wanayasa.
Dan lagi, saya menjadi pelajar kelas satu di sekolah yang berbeda. Di sekolah yang baru, saya mendapat teman baru yang lebih banyak dan tak jarang mereka main kerumah saya.
Entah ada masalah apalagi pada tahun 2006 awal, sehingga saya di bawa oleh Ibu saya ke desa Candi, Kecamatan Bandungan, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah.  Dan lagi, sekolah saya tertinggal dan saya menjadi anak pengangguran yang mengangur tak bersekolah. Padahal hanya beberapa bulan lagi saya bisa naik ke kelas 2, dan meninggalkan jabatan kelas 1 Sekolah Dasar.
Di pertengahan tahun 2006 akhirnya saya mulai bersekolah lagi dengan tempat yang berbeda lagi namun dengan gelar yang sama.
Saya disekolahkan kembalii di Bandung, tepatnya di SDN Sayuran 3 sebagai pelajar kelas 1 SD. Di Bandung, saya hanya tinggal bersama Bapak saya. Sedangkan ibu dan adik saya di Ambarawa.
Keseharian saya saat berangkat sekolah, diantar oleh bapak. Namun saat pulang saya berjalan kaki.
Saat sekolah, saya kadang terheran-heran ketika pembelajaran banyak orangg tua yangg duduk di halaman, menunggu anak-anaknya yangg sedang belajar. Bahkan tak jarang ada orang tua yang masuk ke kelas untuk membantu tugas atau karena anaknya menangis. Jauh berbeda dengan saya, yang hanya ditemani orang tua saat berangkat sekolah, seterusnya saya sendiri tanpa orang tua, tidak seperti anak yang lain.

Sistem sekolah di SDN Sayuran 3 berbeda dengan sekolah saya pada saat berada di Banjarnegara.
Saya berangkat sekolah jam 12 pun tidak telat. Jam setengah 7 pun tidak terlalu pagi. Karena apa? Karena jam masuk saya itu beubah-ubah. Satu minggu saya berangkat pagi yaitu jam setengah tujuh, dan satu minggu berikutnya jam dua belas siang.
Entah hal apa yang membuat saya suka bermain, saya sering kelayaban jauh untuk bermain dan jarang sekali ada waktu untuk belajar. Ada PR pun minta di beri jawaban oleh bapak.
Tapi entah apa juga yang membuat saya bisa menjawab semua soal ulangan dengan baik tanpa nyontek. Buktinya saya bisa mendapat peringkat 2 dikelas saat pembagian raport kenaikan kelas. Karena saya dikelas sangat fokus dengan materi, sehingga saat menjumpai soal tidak terlalu bermasalah. Dan ilmu yang saya dapat di TK Al-Hikmah pun tidak jauh beda dengan materi kelas 1, sehingga mudah bagi saya untuk pelajaran kelas satu.
Saat pengambilan raport, saya beserta orang tua saya pun menuju ruang guru sekolah. Kami meminta surat ijin pindah sekolah. Karena saya akan kembali bersekolah di Banjarnegara. Pihak guru sangat kecewa dengan keputusan pindah yang bapak saya ambil, karena saya dianggap murid pintar oleh guru dengan hasil peringkat 2. Namun apa boleh buat, keadaanlah yang membawa saya pindah sekolah lagi.
Di Banjarnegara saya tinggal bersama kakek dan nenek dari bapak. Itung-itung saya menemani mereka, namun bapak saya kembali lagi ke Bandung untuk bekerja.
Tahun ajaran baru pun dimulai kembali, saya pun menjadi pelajar lagi di sekolah lama dengan status kelas 2. Rasa kecewa pun ada, malu juga ada. Karen teman sekels saya terdahulu kin menjadi kakak kelas saya. Dikarenakan saya mendapat pembelajaran kelas 1 sd selama 2 tahun.
Dan ternyata prestasi saya saat di Bandung masih terbawa di sekolah baru. Saya alhamdulillah masih menyandang gelar juara kelas. Bahkan saya bisa meraih peringkat pertama selama di sekolah di SDN 1 Wanayasa lima tahun berturut-turut.
Padahal dulunya saya anak yang jarang belajar, sering main keliaran kesana-kemari. Tapi di Banjarnegara sayajarang sekali keluar rumah untuk bermain bersama teman. Hanya di rumah saja jika tidak ada kegiatan. Jauh berbeda dengan di Bandung, kalau di Bandung main malam sudah biasa. Di Wanayasa maghrib sudah sepi.
Kelas 6 SD adalah saat dimana berjuang untung menghadapi ujian nasional.. yang mata pelajarannya ada 3. Matematika, bahasa indonesia dan IPA. Belajar pasti...!!! bahkan saya kadang menjadi tempat les untuk teman-teman saya. Rumah guru jauh-jauh, sulit untuk belajar ke rumah guru. Jadi saya membantu teman saya untuk belajar.
 Dan alhamdulilaah, sata kelulusan tanggal 20 Juni 2011 saya mendapat peringkat 1 di sekolah saya. 

Saya berada pada posisi paling ujung, paling tinggi juga. Ini di ambil dari dokumentasi pribadi milik teman, saudara sekaligus teman bersaing. Dia sering mendapat peringkat 2 dan terkadang saling kejar nilai.
Lulus SD pasti mau sekolah ke yang lebih tinggi kan? Iya, saya memutuskan untuk bersekolah di SMP Negeri 1 Wanayasa. Saya dulu tidak berminat sekolah dimana-mana selain di sSMP Negeri 1 Wanayasa. Mungkin karena kakak sepupu saya terdahulu juga sekolah di situ, jadi saya membuntutinya.
Di SMP saya bisa kenal lebih banyak teman lagi, kenal teman tidak hanya orang yang beda RT di desa bahkan bisa kenla teman dari berbagai desa dan beberapa kecamatan. Walau teman saya sewaktu SD jarangg yang bersekolah di SMP tempat saya melanjutkan pendidikan, tapi saya tetap senang dan tak akan melupakan teman lama.
Di SMP juga tetap bersaing untuk memperoleh prestasi. Walau niat saya mendapatkan ilmu bukan prestasi. Tapi alangkah bahagianya orang tua jika anaknya memperoleh ilmu sekaligus prestasi.
Di SMP saya seringkali mengikuti lomba-lomba. Walau tidak sesering anak-anak yang bersekolah di kota. Misalnya saya ikut lomba Kader Kesehatan Remaja yang notabennya di ambil dari anak PMR. Namun karena saya pernah menyerahkan piagam dokter kecil sewaktu SD, maka terpilihlah saya  yang mewakili lomba KKR itu. Saya mengikuti lomba itu saat kelas 7 tahun 2012. Dan itu adalah lomba perdana saya saat di SMP.
Namun saat maju di tingkat Kabupaten, saya belum bisa masuk 6 besar. Padahal selisih pointnya hanya sedikit dengan peserta diaatas saya. Mungkin saya kurang berusaha. Maka dari itu saya tertantang lagi untuk mengikuti lomba yang sama di tahun selanjutnya.
Pada tahun 2013 kelas 8 pun akhirnya saya bisa menyambet juara 2 tingkat kabupaten setelah di karantina di puskesmas selama satu minggu.

Foto bersama bapak Hadi Supeno wakil bupati Banjarnegara untuk penyerahan piala. Sekitar pukul 11 malam kami masih di Kantor Sekda. Dengan proses yang sangat panjang dan melelahkan.
Naik kelas 9 saya tidak lagi mengurus perlombaan. Saya sudah fokus untuk belajar mengahadapi UN. Bereda dengan metode belajar saat SD. Saat SMP saya sering ke rumah guru-guru untuk belajar. Karena rumah guru SMP dekat dengan rumah. Bahkan ada yang 5meter langsung sampai.
Gak bosen aku bimbel disekolah, pulangg sore, belajar kerumah guru malam untuk ilmu. Ilmu tak ada yang sia-sia, usaha juga tidak ada yang sia-sia.
Hasil usahaku pun berbuah manis.. Alhamdulillah saya memperoleh peringkat pertama lagi di SMP Negeri 1 Wanayasa walau target nilai ku tidak sesuai. Setidaknya saya hampir menyentuh target bahkan ada yang melebihi target.


Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya.. setelah lulus SMP kami semua beruaha mengejar cita-cita dan impiannya. Kami melanjutkan sekolah berbeda-beda.
Dan Juni 2014 saya sendiri mendatar di SMA Negeri 1 Banjarnegara. Teman-teman terdahulu tidak ada yang mendaftar sekolah di SMAN 1 Banjarnegara seperti saya. Jadi di SMAN 1 Banjarnegara saya seorang diri anak yang lulusan dari SMP Negeri 1 Wanayasa.
Saya mendaftar melalui jalur prestasi sehingga saya mendaftar lebih awal dari yang biasanya. Walau saya terkadang merasa kewalahan dengan syaratnya yang mengharuskan saya bolak-balik dan naik turun gunung dari Wanayasa ke Banjarnegara kota.
Benak awal saya merasa minder, bisa gak ya bersaing di sekolah favorit. Tapi saya ingat denga prinsip awal. Saya sekolah untuk mencari ilmu bukan untuk mencari ketenaran.
Dan disini, saya akan berjuang saya akan giat belajar demi cita-citaku nanti J



Foto saat HBH PMR yang berepatan hari jadi SMANSABARA tanggal 1 Agustus 2014

Dan smansabara adalah tempat pendidikan saya saat ini, dan saya masih mengharap saya akan mempunyai cerita kronologis pendidikan hingga saya perguruan tinggi. aamiin

No comments :

Post a Comment