Tugas Sejarah Indonesia
KRONOLOGIS PENDIDIKAN
Saya terlahir
di Semarang, 20 Desember 1998 sebagai anak pertama dari bapak yang bernama
Taufikurohman dan Ibu Zumriyah.
Namun,
dalam akte kelahiran saya tertulis saya terlahir di Bandung. Loh kok bisa?
Kenapa gak sekalian di Singapura atau Paris atau????
Bukan karena mengada-ada
tempat kelahiran, namun orangtua saya membuat akte kelahiran ketika kami
sekelurga pindah ke Bandung. Dengan alasan agar tidak rumit dan saat itu juga
membuat akte double. Yang satu untuk saya sendiri dan yang satunya lagi untuk
adik saya yang benar-benar lahir di Bandung.
Itu cerita dari bapak saya ketika saya minta dijelaskan mengapa tempat
kelahirannya tidak sesuai dengan kenyataan.
Saya tumbuh
dari bayi menuju balita di Bandung.
Lima tahun lebih
beberapa bulan, setelah kelahiran saya, tepatnya tahun 2004 saya dimasukkan
oleh orang tua saya ke Taman Kanak-Kanak. Nama TK-nya adalah TK Al-Hikmah yang
tidak jauh dari rumah saya. Saya hanya l membuka pintu belakang rumah saya,
lalu jalan lurus kurang dari 50 meter sudah sampai.
Tidak
seperti TK pada umumnya yang penuh dengan mainan,TK dimana saya belajar tidak
terdapat mainan seperti TK-TK yang lain. Pembelajaran awal saya adalah mengaji
dan belajar pelajaran seperti matematika, bahasa indonesia, menggambar dan
bahasa inggris. Walau ada TK lain yang dekat dengan rumah dan TK itu banyak
mainan anaknya, tapi saya dimasukkan di TK yang gak ada mainannya. Mungkin
karena agar ilmu agama saya baik, karena TK pilihan orangtua saya kental sekali
dengan hubungan dan ajaran agama.
Kegiatan
pembelajaran saat TK pun banyak yang berhubungan dengan agama. Misal, sebelum
pembelajaran kami diwajibkan mengaji. Mengajinya dengan membaca “Iqro’ “ yang
pasti dimulai dari iqro awal yaitu iqro satu. Kegiatan lainnya setiap hari
Jum’at kita latihan solat. Latian sholatnya di Masjid Al-Hikmah. Jadi TK tempat
saya menuntut ilmu masih dalam naungan masjid Al-Hikmah.
Manasik Haji juga salah
satunya, saya ingat kejadian dimana saat akan mengadakan manasik haji.
Seragam
untuk manasik haji kebanyakan beli di sekolah. Tapi, karena orang tua saya juga
penjahit jadi lebih memilih membuat sendiri agar lebih menghemat. Sama-sama
warna putih si, tapi punya saya lebih bagus. Karena modelnya ibu saya sendiri
yang merancang. Beda dengan yang lain. Saat manasik, saya ingat kejadian yang
melempar jumroh dengan kacang pilus yang di taruh di tas saku kecil, lalu ingat
dengan banyaknya kamera yang mengambil gamar dan hasil gambarnya dijual di
pinggir jalan menuju jalan keluar lokasi peragaan. Saya liat banyak sekali foto
saya, karena tidak hanya ada satu orang yang menjadi juru foto.
Tapi
belajar saya tidak hanya di sekolah, saya juga masih mencari ilmu di sore hari
dengan pergi ke Masjid Al-Hikmah untuk mengaji. Jadi saya mendapat ilmu
agamanya plus-plus.
Buku saat saya TK pun tidak penuh
gambar-gambar lucu dan menarik yang disukai anak kecil. Hanya ada tempat untuk
mewarnai dalam pelajaran sempoa matematika. Bahasa inggris pun bukunya hanya
gambar-gambar sederhana yang tidak berwarna dan jika anak-anak melihat
sepertinya idak akan tertarik untuk melihat lagi.
Karena ada
masalah dalam keluarga saya, akhirrnya saya dibawa oleh orang tua saya ke
Banjarnegara yang sejatinya adalah tempat tinggal kakek dan nenek saya. Dan
alhasil, pendidikan TK saya pun terhenti dan sampai saat ini saaybelum pernah
wisuda TK dan menyandang gelar lulusan TK. Karena saya TKnya tidak lulus.
Sangat memalukan, anak SMA yang saat TK tidak lulus.
Memasuki tahun ajaran sekolah
baru (2005), saya pun didaftarkan sekolah oleh Pakde saya yang tinggal di
Banjarnegara. Dan kebetulah, Pakde saya adalah kepala sekolah di MI Ma’arif
Celibikan. Sekolahan yang terletak di pelosok desa.
Asing? Itu
yang ada dipikiran saya saat pertama kali mengenal teman dengan suku budaya dan
bahasa berbeda. Masih sulit untuk saya mencerna bahasa anak desa yang mainstream
berbahasa jawa dan jarang yang fasih berbahasa indonesia.
Saat jajan pun saya merasa
kebingungan. Jika di Bandung, ada Tremos besar yang isinya es, di Desa Clibikan
kecamatan Wanayasa isinya bubur. Mungkin karena perbedaan iklim. Di Bandung
panas, di desa dingin. Malunya itu ketika saya mengasihkan uang kepada
penjualnya dan bilang “Bu beli esnya” sambil membuka tutupnya. Dan saya
seketika menggaruk rambut karena heran dengan isinya. Akhirnya dijelaskan oleh
penjual dengan menggunakan bahasa krama yang membuat saya makin bingung
Saat
menunggu Pakde selesai dengan urusan sekolahnya, saya pun di suruh pakde untuk
ikut ke rumah teman sekolah saya. Mereka berkata “Desy, mayo salin nang umahe
aku” otak saya sedikit mengetahui apa yang mereka maksud. Saya menangkapnya
dengan pikiran “saya diajak kerumah untuk bersalaman” dan aku pun mengikuti
mereka kerrumanya. Saya kira saya disuruh bersalaman dengan orang tua mereka,
ternyata saya disuruh ganti baju dengan baju yang mereka punya di rumah. Namun,
gak ada baju yang muat untuk saya. Karena saya dulu tinggi dibanding mereka.
Saya sekolah di MI Ma’arif
Celibikan sabagai pelajar kelas 1 hanya satu minggu saja. Karena letak sekolah
yang jauh, dan saya memungkinkan pulang seorang diri. Selama saya sekolah
disana, berangkat dan pulang selalu bersama pakde, namun aktifitas pakde saya
yang menjabat sebagai kepala sekolah menuntut kerja yang lebih dibanding
pelajar, sehingga tidak jarang saya pulang sore dan tidak dapat belajar. Oleh
sebab itu, saya keluar dari sekolah itu dan saya dipindahkan ke SD Negeri 1
Wanayasa.
Dan lagi,
saya menjadi pelajar kelas satu di sekolah yang berbeda. Di sekolah yang baru,
saya mendapat teman baru yang lebih banyak dan tak jarang mereka main kerumah
saya.
Entah ada masalah apalagi pada
tahun 2006 awal, sehingga saya di bawa oleh Ibu saya ke desa Candi, Kecamatan
Bandungan, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah. Dan lagi, sekolah saya tertinggal dan saya
menjadi anak pengangguran yang mengangur tak bersekolah. Padahal hanya beberapa
bulan lagi saya bisa naik ke kelas 2, dan meninggalkan jabatan kelas 1 Sekolah
Dasar.
Di pertengahan
tahun 2006 akhirnya saya mulai bersekolah lagi dengan tempat yang berbeda lagi
namun dengan gelar yang sama.
Saya disekolahkan
kembalii di Bandung, tepatnya di SDN Sayuran 3 sebagai pelajar kelas 1 SD. Di
Bandung, saya hanya tinggal bersama Bapak saya. Sedangkan ibu dan adik saya di
Ambarawa.
Keseharian saya saat berangkat
sekolah, diantar oleh bapak. Namun saat pulang saya berjalan kaki.
Saat sekolah, saya kadang
terheran-heran ketika pembelajaran banyak orangg tua yangg duduk di halaman,
menunggu anak-anaknya yangg sedang belajar. Bahkan tak jarang ada orang tua
yang masuk ke kelas untuk membantu tugas atau karena anaknya menangis. Jauh
berbeda dengan saya, yang hanya ditemani orang tua saat berangkat sekolah,
seterusnya saya sendiri tanpa orang tua, tidak seperti anak yang lain.
Sistem
sekolah di SDN Sayuran 3 berbeda dengan sekolah saya pada saat berada di
Banjarnegara.
Saya
berangkat sekolah jam 12 pun tidak telat. Jam setengah 7 pun tidak terlalu
pagi. Karena apa? Karena jam masuk saya itu beubah-ubah. Satu minggu saya
berangkat pagi yaitu jam setengah tujuh, dan satu minggu berikutnya jam dua
belas siang.
Entah hal
apa yang membuat saya suka bermain, saya sering kelayaban jauh untuk bermain
dan jarang sekali ada waktu untuk belajar. Ada PR pun minta di beri jawaban
oleh bapak.
Tapi entah apa juga yang
membuat saya bisa menjawab semua soal ulangan dengan baik tanpa nyontek.
Buktinya saya bisa mendapat peringkat 2 dikelas saat pembagian raport kenaikan
kelas. Karena saya dikelas sangat fokus dengan materi, sehingga saat menjumpai
soal tidak terlalu bermasalah. Dan ilmu yang saya dapat di TK Al-Hikmah pun
tidak jauh beda dengan materi kelas 1, sehingga mudah bagi saya untuk pelajaran
kelas satu.
Saat
pengambilan raport, saya beserta orang tua saya pun menuju ruang guru sekolah.
Kami meminta surat ijin pindah sekolah. Karena saya akan kembali bersekolah di
Banjarnegara. Pihak guru sangat kecewa dengan keputusan pindah yang bapak saya
ambil, karena saya dianggap murid pintar oleh guru dengan hasil peringkat 2.
Namun apa boleh buat, keadaanlah yang membawa saya pindah sekolah lagi.
Di Banjarnegara
saya tinggal bersama kakek dan nenek dari bapak. Itung-itung saya menemani
mereka, namun bapak saya kembali lagi ke Bandung untuk bekerja.
Tahun ajaran baru pun dimulai
kembali, saya pun menjadi pelajar lagi di sekolah lama dengan status kelas 2.
Rasa kecewa pun ada, malu juga ada. Karen teman sekels saya terdahulu kin
menjadi kakak kelas saya. Dikarenakan saya mendapat pembelajaran kelas 1 sd
selama 2 tahun.
Dan ternyata
prestasi saya saat di Bandung masih terbawa di sekolah baru. Saya alhamdulillah
masih menyandang gelar juara kelas. Bahkan saya bisa meraih peringkat pertama
selama di sekolah di SDN 1 Wanayasa lima tahun berturut-turut.
Padahal dulunya
saya anak yang jarang belajar, sering main keliaran kesana-kemari. Tapi di
Banjarnegara sayajarang sekali keluar rumah untuk bermain bersama teman. Hanya di
rumah saja jika tidak ada kegiatan. Jauh berbeda dengan di Bandung, kalau di
Bandung main malam sudah biasa. Di Wanayasa maghrib sudah sepi.
Kelas 6 SD
adalah saat dimana berjuang untung menghadapi ujian nasional.. yang mata
pelajarannya ada 3. Matematika, bahasa indonesia dan IPA. Belajar pasti...!!!
bahkan saya kadang menjadi tempat les untuk teman-teman saya. Rumah guru
jauh-jauh, sulit untuk belajar ke rumah guru. Jadi saya membantu teman saya
untuk belajar.
Dan alhamdulilaah, sata kelulusan tanggal 20
Juni 2011 saya mendapat peringkat 1 di sekolah saya.
Saya berada pada posisi paling ujung, paling
tinggi juga. Ini di ambil dari dokumentasi pribadi milik teman, saudara
sekaligus teman bersaing. Dia sering mendapat peringkat 2 dan terkadang saling
kejar nilai.
Lulus SD
pasti mau sekolah ke yang lebih tinggi kan? Iya, saya memutuskan untuk
bersekolah di SMP Negeri 1 Wanayasa. Saya dulu tidak berminat sekolah
dimana-mana selain di sSMP Negeri 1 Wanayasa. Mungkin karena kakak sepupu saya
terdahulu juga sekolah di situ, jadi saya membuntutinya.
Di SMP saya
bisa kenal lebih banyak teman lagi, kenal teman tidak hanya orang yang beda RT
di desa bahkan bisa kenla teman dari berbagai desa dan beberapa kecamatan. Walau
teman saya sewaktu SD jarangg yang bersekolah di SMP tempat saya melanjutkan
pendidikan, tapi saya tetap senang dan tak akan melupakan teman lama.
Di SMP juga
tetap bersaing untuk memperoleh prestasi. Walau niat saya mendapatkan ilmu
bukan prestasi. Tapi alangkah bahagianya orang tua jika anaknya memperoleh ilmu
sekaligus prestasi.
Di SMP saya
seringkali mengikuti lomba-lomba. Walau tidak sesering anak-anak yang
bersekolah di kota. Misalnya saya ikut lomba Kader Kesehatan Remaja yang
notabennya di ambil dari anak PMR. Namun karena saya pernah menyerahkan piagam
dokter kecil sewaktu SD, maka terpilihlah saya
yang mewakili lomba KKR itu. Saya mengikuti lomba itu saat kelas 7 tahun
2012. Dan itu adalah lomba perdana saya saat di SMP.
Namun saat
maju di tingkat Kabupaten, saya belum bisa masuk 6 besar. Padahal selisih
pointnya hanya sedikit dengan peserta diaatas saya. Mungkin saya kurang
berusaha. Maka dari itu saya tertantang lagi untuk mengikuti lomba yang sama di
tahun selanjutnya.
Pada tahun 2013 kelas 8 pun
akhirnya saya bisa menyambet juara 2 tingkat kabupaten setelah di karantina di
puskesmas selama satu minggu.
Foto bersama bapak Hadi Supeno wakil bupati
Banjarnegara untuk penyerahan piala. Sekitar pukul 11 malam kami masih di
Kantor Sekda. Dengan proses yang sangat panjang dan melelahkan.
Naik kelas 9 saya tidak lagi
mengurus perlombaan. Saya sudah fokus untuk belajar mengahadapi UN. Bereda dengan
metode belajar saat SD. Saat SMP saya sering ke rumah guru-guru untuk belajar. Karena
rumah guru SMP dekat dengan rumah. Bahkan ada yang 5meter langsung sampai.
Gak bosen
aku bimbel disekolah, pulangg sore, belajar kerumah guru malam untuk ilmu. Ilmu
tak ada yang sia-sia, usaha juga tidak ada yang sia-sia.
Hasil
usahaku pun berbuah manis.. Alhamdulillah saya memperoleh peringkat pertama
lagi di SMP Negeri 1 Wanayasa walau target nilai ku tidak sesuai. Setidaknya saya
hampir menyentuh target bahkan ada yang melebihi target.
Perpisahan bukanlah
akhir dari segalanya.. setelah lulus SMP kami semua beruaha mengejar cita-cita
dan impiannya. Kami melanjutkan sekolah berbeda-beda.
Dan Juni
2014 saya sendiri mendatar di SMA Negeri 1 Banjarnegara. Teman-teman terdahulu tidak
ada yang mendaftar sekolah di SMAN 1 Banjarnegara seperti saya. Jadi di SMAN 1
Banjarnegara saya seorang diri anak yang lulusan dari SMP Negeri 1 Wanayasa.
Saya mendaftar
melalui jalur prestasi sehingga saya mendaftar lebih awal dari yang biasanya. Walau
saya terkadang merasa kewalahan dengan syaratnya yang mengharuskan saya
bolak-balik dan naik turun gunung dari Wanayasa ke Banjarnegara kota.
Benak awal
saya merasa minder, bisa gak ya bersaing di sekolah favorit. Tapi saya ingat
denga prinsip awal. Saya sekolah untuk mencari ilmu bukan untuk mencari
ketenaran.
Dan disini, saya akan berjuang
saya akan giat belajar demi cita-citaku nanti J
Foto saat HBH PMR yang berepatan
hari jadi SMANSABARA tanggal 1 Agustus 2014
Dan smansabara adalah tempat pendidikan
saya saat ini, dan saya masih mengharap saya akan mempunyai cerita kronologis
pendidikan hingga saya perguruan tinggi. aamiin






No comments :
Post a Comment